Cilacap, 14 November 2025 — Kesedihan mendalam menyelimuti Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, setelah bencana tanah longsor menerjang Dusun Cibuyut dan Dusun Tarukahan pada Kamis (13/11) sekitar pukul 20.00 WIB. Hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung sejak sore hari, ditambah kontur tanah yang labil, menjadi pemicu utama terjadinya longsor besar yang meluluhlantakkan permukiman warga.
Sebelumnya, BMKG telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem pada Minggu (9/11). Hujan deras disertai angin kencang dan petir sejak pukul 16.00 sampai 20.00 WIB menyebabkan penurunan tanah hingga dua meter dan retakan sepanjang sekitar 25 meter di wilayah Desa Cibeunying. Kondisi tersebut menjadi titik awal pergerakan tanah yang kemudian kembali dipicu hujan pada Kamis sore dan berujung pada longsor besar yang memakan korban.
Dua warga ditemukan meninggal dunia dalam musibah ini, yaitu Julia Lestari (20) dan Maya Dwi Lestari (15), keduanya berasal dari Dusun Tarukahan. Sementara itu, puluhan warga lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian. Tiga warga mengalami luka ringan, sedangkan 23 orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat.
Upaya pencarian korban dilakukan secara intensif sejak dini hari oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Basarnas, TNI, POLRI, pemerintah desa, serta unsur relawan dari berbagai organisasi. Di Dusun Tarukahan, dari total 14 korban, tujuh masih dalam pencarian, sementara lima warga berhasil ditemukan selamat. Di Dusun Cibuyut, seluruh 14 warga yang terdampak masih belum ditemukan hingga berita ini diturunkan. Proses pencarian terkendala medan yang licin, tanah yang masih bergerak, serta area longsoran yang luas.
Selain menelan korban jiwa, longsor juga menyebabkan kerusakan signifikan pada permukiman. Sebanyak 12 rumah warga mengalami kerusakan, dan 16 rumah lainnya terancam akibat pergeseran tanah lanjutan. Nilai kerusakan masih dalam proses penghitungan dari tim teknis. Beruntung, tidak terdapat laporan kerusakan pada lahan pertanian maupun sektor perikanan.
Hingga saat ini, tim Basarnas, BPBD, TNI, POLRI, relawan, dan masyarakat terus berupaya maksimal dalam operasi pencarian dan pertolongan. Potensi longsor susulan masih tinggi, sehingga warga yang tinggal di sekitar lokasi rawan diimbau mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman.
Bencana ini menjadi pukulan berat bagi masyarakat Majenang. Puluhan warga masih hilang, sementara keluarga mereka menanti dengan penuh harap agar pencarian dapat segera membuahkan hasil.
Pray for Majenang.
Semoga seluruh korban yang masih hilang segera ditemukan, dan kekuatan menyertai para keluarga serta seluruh tim penyelamat yang terus bekerja tanpa lelah.
Longsor di Desa Kemiri Tutup Akses Jalan dan Rusakkan Senderan Rumah Warga, Temanggung, 13 November 2025 — BPBD Kabupaten Temanggung melakukan peninjauan lapangan terhadap kejadian tanah longsor yang terjadi di Dusun Sigran RT 01 RW 09, Desa Kemiri, Kecamatan Kaloran, pada Kamis siang (13/11) pukul 11.50 WIB. Tinjauan dilakukan setelah menerima laporan resmi dari Perangkat Desa Kemiri terkait bencana yang berlangsung pada Minggu (9/11) sekitar pukul 08.30 WIB.
Peristiwa longsor terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Desa Kemiri sejak pukul 07.30 WIB. Curah hujan yang berlangsung selama beberapa jam menyebabkan senderan rumah milik Bapak Andi Susilo (1 KK, 4 jiwa) dengan tinggi sekitar 3 meter dan panjang kurang lebih 12 meter mengalami keruntuhan. Material longsoran kemudian menutup akses jalan dusun sehingga mobilitas warga sempat terhambat.
Beruntung tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian ini. Nilai kerusakan material diperkirakan mencapai Rp 28.685.600,-. Dengan dukungan warga, pembersihan material longsor telah selesai dilakukan melalui kerja bakti sehingga akses jalan kembali dapat digunakan.
Dalam penanganan awal, BPBD Kabupaten Temanggung bersama unsur TNI, POLRI, Pemerintah Desa Kemiri, dan masyarakat turut terlibat untuk memastikan keamanan lokasi serta mengantisipasi potensi longsor susulan. BPBD juga melakukan pendataan kerusakan, peninjauan teknis, serta koordinasi dengan pihak terkait untuk tindak lanjut kebutuhan perbaikan.
Kebutuhan mendesak saat ini adalah pembangunan kembali senderan rumah yang rusak agar tidak menimbulkan risiko tambahan bagi penghuni maupun lingkungan sekitar. Hingga laporan ini disusun, tidak ada warga yang mengungsi.
BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana, khususnya pada wilayah dengan struktur tanah labil dan saat curah hujan tinggi.
BPBD