Detail Berita

 

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena hidrometeorologi, terutama saat musim peralihan. Pada periode ini, fenomena alam puting beliung kerap terjadi dan menjadi ancaman bencana di berbagai wilayah.

Indonesia dikenal memiliki curah hujan tinggi dengan tiga pola utama, yaitu pola hujan monsun, ekuatorial, dan lokal, yang masing-masing memiliki periode puncak hujan berbeda.

  • Pola hujan monsun terjadi di wilayah Sumatera bagian timur, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Kalimantan bagian selatan. Puncak hujan berlangsung pada Desember, Januari, dan Februari.

  • Pola hujan ekuatorial meliputi pantai barat Sumatera, Kalimantan barat, Kalimantan utara, Kalimantan tengah bagian utara, Sulawesi, Papua, dan sebagian Papua Barat. Puncak hujan biasanya pada Maret dan Oktober.

  • Pola hujan lokal terdapat di Maluku dan Papua Barat bagian barat, dengan puncak hujan pada Juni, Juli, dan Agustus.

BNPB menekankan pentingnya memperhatikan pergeseran awal musim penghujan dari barat ke timur, sebab pada periode tersebut bencana hidrometeorologi berpotensi besar terjadi.

“Kesadaran masyarakat terhadap pola hujan di daerah masing-masing akan membantu mengurangi risiko bencana. Mitigasi harus dimulai dari rumah tangga hingga tingkat komunitas,” ujar BNPB.

 

Melalui program Tanggap, Tangkas, Tangguh Menghadapi Bencana, BNPB terus mendorong masyarakat agar lebih siaga menghadapi ancaman hidrometeorologi yang semakin meningkat akibat perubahan iklim.