Temanggung, 23 Juni 2025 — Indonesia merupakan negara yang sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Letaknya yang berada di wilayah tropis dan dipengaruhi oleh kondisi cuaca ekstrem membuat bencana seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, dan kekeringan sering terjadi setiap tahun. Kabupaten Temanggung, yang berada di wilayah pegunungan tengah Pulau Jawa, turut merasakan dampak dari dinamika hidrometeorologi tersebut.
Karakter Bencana Hidrometeorologi di Indonesia
Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dipicu oleh faktor cuaca, iklim, dan kondisi atmosfer. Jenis bencana ini meliputi:
-
Banjir dan banjir bandang
-
Tanah longsor
-
Angin puting beliung
-
Kekeringan
-
Cuaca ekstrem lainnya
Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lebih dari 90?ncana yang terjadi di Indonesia tiap tahunnya termasuk dalam kategori hidrometeorologi. Hal ini disebabkan oleh tingginya curah hujan, perubahan iklim global, kerusakan lingkungan, dan alih fungsi lahan.
Dampak Hidrometeorologi di Kabupaten Temanggung
Kabupaten Temanggung yang dikelilingi perbukitan dan lereng gunung seperti Gunung Sindoro dan Sumbing memiliki karakteristik topografi yang rawan terhadap bencana longsor dan banjir bandang. Beberapa desa di wilayah lereng dan bantaran sungai menjadi titik rawan saat musim hujan datang.
1. Tanah Longsor
-
Sering terjadi di wilayah pegunungan dan lereng dengan kemiringan tinggi, seperti di Kecamatan Tretep, Candiroto, dan Wonoboyo.
-
Curah hujan tinggi memicu pelunakan tanah, terutama di daerah yang mengalami kerusakan vegetasi dan pembukaan lahan secara masif.
2. Banjir dan Banjir Bandang
-
Dapat terjadi di daerah hilir seperti Kecamatan Tembarak dan Parakan.
-
Penyebab utama antara lain alih fungsi lahan, sedimentasi sungai, serta sistem drainase yang tidak memadai.
3. Angin Kencang/Puting Beliung
-
Sering terjadi saat pancaroba atau peralihan musim.
-
Merusak rumah warga, fasilitas umum, dan lahan pertanian di dataran rendah.
4. Kekeringan
-
Mengancam sektor pertanian saat musim kemarau panjang, khususnya di wilayah dengan akses air terbatas seperti Kaloran dan Bejen.
-
Dampaknya meliputi gagal panen, berkurangnya debit air irigasi, serta krisis air bersih.
Langkah Antisipatif dan Mitigasi
Pemerintah Kabupaten Temanggung melalui BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) terus melakukan berbagai upaya untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi, antara lain:
-
Pemetaan daerah rawan dan pemasangan rambu peringatan bencana
-
Penanaman pohon dan vegetasi penahan longsor di lereng rawan
-
Pembangunan embung dan saluran drainase untuk mencegah banjir
-
Edukasi dan pelatihan kebencanaan kepada masyarakat dan sekolah
-
Penguatan sistem peringatan dini berbasis cuaca dari BMKG
Penutup
Karakter bencana hidrometeorologi yang kompleks membutuhkan kesiapsiagaan dan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat. Kabupaten Temanggung, dengan kondisi geografisnya yang khas, harus terus membangun sistem mitigasi yang adaptif agar mampu menghadapi perubahan iklim dan dinamika cuaca ekstrem di masa depan.